PANEN KARYA WORKSHOP STREET PHOTO BANDUNG

Catatan dari workshop street photography hari ke-tiga; presentasi karya, 29 Januari 2012

“Kami sih masih bisa dianggap sebagai pemula” umbar Pukis, salah seorang pegiat di komunitas Bandung street photography. Pastilah semua adalah ingin memulai disebut pemula, tetapi dalam street photography tidak dikenal pemula, namun konsisten. Inilah pembukaan diskusi sekaligus presentasi peserta workshop, yang dihadiri lebih dari puluhan orang, dari berbagai komunitas fotografi di Bandung.

Suasana satu-satunya ruang Photolicious, di Rangga Point jalan Ranggamalela 13-15 Bandung, berubah sementara menjadi ruang pamer. Memang fotografi di Bandung sangat merindukan ruang bersama, ruang publik yang bisa menampung curahan apresiasi fotografi yang layak. Setidaknya, ruang ini telah memberikan pilihan, meskipun belum layak disebut galeri, setidaknya ada. Sususnan 36 karya, dicetak ukuran 20x25cm, ditata tanpa kategori khusus, ditempel didinding, sebelumnya dilapisi styrofoam, agar bingkai tampak tebal. Pameran berlangsung, dari tanggal 26 Januari 2012, hingga 3 Februari. Ini adalah event gelar karya bersama, dari komunitas yang lahir di program Sayur Asem/Saling Guyur Asah Semangat yang digagas Fotolisis, penyajian karya street photo inspiratif karya Ahmad Afgan akhir tahun 2010 lalu, di salah satu kedai kopi, jalan Bengawan 52 Bandung.

Dalam rangkaian kegiatan pameran ini, turut mengisi acara dengan sajian presentasi, kemudian dilanjutkan dengan diskusi, yang dipandu oleh Pukis, Egi dan Ahmad Afgan dari Bandung Street Photography/BSP. Presentasi karya adalah hasil dari kegiatan workshop yang dilaksanakan oleh Fotolisis, organiser untuk fotografi, yang diawali dengan pemberian materi, tanggal 24 Januari 2012. Dilanjutkan proses pemotretan, asistensi dan diskusi tanggal 28 Januari dan diakhiri presentasi dan diskusi di tempat ini. Karya yang diperlihatkan adalah hasil penelusuran visual, yang dipandu oleh Deni Sugandi, Ame, Irman Ariadi dan Ahmad Afgan. Dimulai dari pagi di jalan Banceuy, kemudian bergerak menuju areal belakang jalan Pasar Baru belakang, sepanjang jalan ABC kemudian diahiri di kedai nasi pa Uha, belakang gedung Mandiri jalan Banceuy. Meskipun bergerak model keroyokan, namun cara pandang bolehlah berbeda, maka sajian dalam presentasi ini bentuk bisa sama, namun gagasan bisa berbeda.

Presentasi pertama karya street photo, dibuka oleh Benj, partisipan yang berasal dari Brisbane Australia. “Saya sangat senang sekali dengan suasana di kota Bandung, memang sebelumnya saya pernah tinggal di Jakarta” kata Benj, sambil bercerita tentang pedagang dadakan di acara car free day Bandung. Suguhan karya tentang pedadang seperti ini, tentu saja tidak ada yang menarik bagi warga Bandung, tetapi tidak untuk Benj. Ia melihat begitu mudahnya berjualan di kota ini tanpa harus dibebankan administrasi apapun, tinggal gelar, kemudian ditunggui. Benj mengaku dirinya baru menekuni fotografi sebagai pilihan profesinya. Meskipun belum sepenuhny amenggantungkan hidup difotografi, namun ia melihat fotografi bisa membantu ia mendalami estetika.karya: Benj

Lain karya Benj, lain pula karya Roni Syahron Fajar. Karya-karya yang dihadirkan lebih banyak detail, diantaranya detail teks sablon pada kaos. Bunyi teks lugas inilah yang dimanfaakannya sebagai bahasa simbol yang menarik. Berbeda dengan Kenas Dayne, mahasiswi Tekpen UPI ini menggagas eksplorasi menggunakan kamera handphone. Justru dari kekurangannya, media rekam seperti ini memberikan wujud kebeasan membidik. Lihat saja, salah satu karyanya membidik transakti tilang oleh polisi lalulintas. Meskipun termasuk jarak “intimacy” namun tidak ada perubahan sikap dari satuan penegak hukum tersebut, karena ia tidak menyadari sedang diambil gambar.
karya: Kenas Dayne

“Street photography itu sangat membebaskan saya, tidak perlu mengatur, saya hanya tinggal menentukan adegan saja” begitu cetus Andhini, ketika memaparkan pengantar pada presentasi karyanya. Terlihat dari beberapak karyanya memang yang ia lakukan adalah “to take not to make” jelas bahwa dalam genre ini, “membuat” telah dirancang dalam ayal imaji dikepala masing-masing. Kamera adalah cara alih wahana dari pemikiran; maka lahirlah street photography. Dalam karyanya “eh, hai.” Jelas ia menggunakan pendekatan menentukan latar terlebih dahulu. Ciri seperti ini paling khas dalam aliran ini, persis seperti gaya karya Henri Cartier Bresson, dengan judul Siphnos (1961), bentuk dan gagasannya sama persis.karya: Henri Cartier Bresson
karya: Andhin
karya: Ivan

Ada apa dibalik foto, adalah penelurusan Ivan M. Affandi tentang fotografi. Foto bagus pastilah banyak menghiasi haus visual, bukan lapar makna. Pemaknaan seperti inilah yang sebenarnya dicarinya. Dalam kesempatan memotret bersama, Ivan berhasil menemukan talian simbol ruang kota, menjadi makna langsung yang bisa dibaca. Pada kesempatan seperti ini, aestetik tidak begitu dipentingkan, namun linguistik visual lah yang kental, seperti pada karyanya “Maaf no cash please” ia mengaitkan simbol, seakan tidak menerima sumbangan kecuali menggunakan kartu kredit. Juxtaposisi inilah yang ia bangun, untuk mengagetkan pelihat, bahwa satir itu ada dan sangat vulgar, itula kekuatan fotografi sesungguhnya. (denisugandi@gmail.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

* Copy This Password *

* Type Or Paste Password Here *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>